Efek domino yang jarang dibahas ini mengungkap bagaimana kemenangan beruntun dapat memengaruhi intensitas bermain secara tidak langsung, bukan lewat dorongan “serakah” semata, melainkan melalui perubahan kecil pada cara otak membaca risiko, waktu, dan rasa mampu. Saya pertama kali menyadarinya saat mengamati kebiasaan seorang teman lama yang gemar memainkan game kompetitif seperti Mobile Legends dan Valorant. Ia tidak pernah berbicara soal mengejar angka, tetapi pola waktunya berubah drastis setelah serangkaian kemenangan.
1) Cerita sederhana: kemenangan yang terasa “mengatur” jam bermain
Pada awalnya, ia bermain setelah pulang kerja sekitar satu jam, sekadar melepas penat. Lalu suatu malam, ia menang berturut-turut. Bukan kemenangan yang spektakuler, hanya rangkaian hasil positif yang membuatnya menutup sesi dengan perasaan ringan. Esoknya, ia bercerita bahwa ia “lagi enak mainnya,” seolah ada ritme yang sedang pas.
Tanpa disadari, ritme itu mulai menentukan jam tidur. Ia menambah satu pertandingan “biar tidak memutus momentum.” Di sini efek domino muncul: bukan kemenangan yang membuatnya langsung bermain berlebihan, melainkan keyakinan bahwa ada jendela waktu tertentu ketika performanya sedang tinggi. Keyakinan itu menggeser batas durasi bermain, sedikit demi sedikit.
2) Mekanisme psikologis: penguatan perilaku yang halus
Dalam psikologi perilaku, hasil yang menyenangkan cenderung memperkuat tindakan yang mendahuluinya. Kemenangan beruntun berperan seperti umpan balik yang menegaskan, “cara bermainmu benar.” Namun yang jarang dibahas adalah bagaimana penguatan itu tidak selalu berbentuk keinginan menang lagi, melainkan keinginan mempertahankan kondisi mental yang terasa efektif.
Ketika seseorang merasa “tangan lagi panas” atau “lagi on fire,” ia bukan hanya mengejar hasil, tetapi mengejar sensasi kompetensi. Sensasi ini bisa lebih adiktif daripada angka kemenangan itu sendiri karena berkaitan dengan identitas: merasa mampu, merasa tajam, merasa keputusan cepatnya tepat. Dari sinilah intensitas bermain dapat meningkat secara tidak langsung, melalui kebutuhan menjaga citra diri sebagai pemain yang sedang bagus.
3) Perubahan persepsi risiko dan kontrol: “Aku bisa mengulangnya”
Kemenangan beruntun sering menggeser cara kita menilai risiko. Pada game strategi seperti Chess.com atau Teamfight Tactics, misalnya, kemenangan berurutan dapat membuat pemain merasa pola pikirnya sedang optimal. Ia lalu lebih berani mencoba taktik yang biasanya dihindari, karena otak menafsirkan keberhasilan terakhir sebagai bukti bahwa ia punya kontrol lebih besar daripada kenyataannya.
Di sinilah jebakannya: rasa kontrol meningkat, sementara variabel acak, lawan yang berubah, dan faktor kelelahan tetap ada. Ketika keyakinan kontrol membesar, seseorang cenderung menambah jumlah sesi untuk “memanfaatkan” kontrol tersebut. Intensitas naik bukan karena ingin membalas kekalahan, melainkan karena ingin memperpanjang fase yang dianggap menguntungkan.
4) Efek pada manajemen waktu: satu sesi menjadi dua, dua menjadi kebiasaan
Yang paling tampak dari efek domino ini adalah perubahan kecil pada manajemen waktu. Teman saya mulai menggeser prioritas: makan malam lebih cepat, menunda mandi, atau menunda membaca. Alasannya terdengar rasional, “sebentar lagi selesai,” padahal tidak ada garis akhir yang jelas. Kemenangan beruntun membuat akhir sesi terasa sayang untuk diakhiri.
Secara praktis, kemenangan menciptakan “penutup” yang menyenangkan. Otak menyukai menutup aktivitas dengan emosi positif, sehingga ia cenderung mengulang pola yang sama. Lama-kelamaan, jadwal harian menyesuaikan diri terhadap kemungkinan mendapatkan penutup positif itu. Intensitas bermain meningkat karena waktu luang mulai dipahat mengikuti harapan akan akhir yang menyenangkan.
5) Dampak sosial yang tidak disadari: validasi dan reputasi kecil
Dalam komunitas game seperti Dota 2, Apex Legends, atau PUBG, kemenangan beruntun sering memicu respons sosial: pujian singkat, ajakan main lagi, atau sekadar rasa bangga saat membagikan hasil. Validasi ini terasa ringan, tetapi punya daya dorong. Seseorang mulai mengaitkan intensitas bermain dengan kesempatan mendapat pengakuan, meski hanya dari lingkaran kecil.
Efeknya halus: ketika menang, ia lebih mungkin menerima ajakan “satu lagi.” Ketika ia menolak, ia merasa kehilangan momen kebersamaan. Akhirnya intensitas naik bukan karena permainan itu sendiri, melainkan karena hubungan sosial yang menempel pada rangkaian kemenangan. Kemenangan beruntun menjadi tiket untuk mempertahankan posisi dalam kelompok, meski tidak pernah diucapkan secara terang-terangan.
6) Cara mengenali pola tanpa menggurui diri sendiri
Mengenali efek domino ini dimulai dari pertanyaan sederhana: apakah durasi bermainmu berubah setelah serangkaian hasil baik? Banyak orang hanya waspada saat performa menurun, padahal performa yang meningkat pun bisa menggeser batas. Coba perhatikan momen ketika kamu berkata, “lagi bagus nih,” lalu menambah sesi tanpa rencana awal.
Pengamatan yang paling berguna adalah mencatat pemicu, bukan menghukum kebiasaan. Misalnya, apakah kamu menambah sesi karena ingin menutup hari dengan perasaan menang, karena merasa kontrol sedang tinggi, atau karena teman mengajak setelah melihat hasilmu? Dengan memahami pemicu dominan, kamu bisa melihat bahwa intensitas bermain sering meningkat lewat jalur tidak langsung: perubahan persepsi kontrol, kebutuhan penutup emosional, dan dorongan sosial yang mengikuti kemenangan beruntun.

